Statement ini disampaikan oleh Faisal Basri dalam Seminar Sehari Fakultas Ekonomi Universitas Dian Nuswantoro (FE UDINUS) dan Talk Show TVKU bertajuk Kondisi Sosial Ekonomi Terkini dan Prospek 2009, yang digelar pada hari Selasa, 10 Maret 2009. Acara Seminar dibuka oleh Dekan FE UDINUS, DR. Agus Prayitno, dan mendapat atensi luar biasa dari civitas akademika FE Udinus dimana tidak kurang dari 250 orang menghadiri Seminar ini. Ngurah Pandji MAD, SE, M.Si selaku moderator memulai Talk Show dengan memberikan beberapa pernyataan sebagai pemicu diskusi. Pernyataan pemicu dan menarik untuk didiskusikan adalah merujuk pada fenomena keberadaan dua pendapat yang saling bertentangan, terkait dengan hasil pembangunan. Satu pendapat mengatakan bahwa pemerintah telah berhasil mengawal pembangunan, sedangkan pendapat yang lainnya menyatakan bahwa pemerintah tidak cukup mampu untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
Seminar menghadirkan pembicara sudah dikenal luas, yaitu Faisal Basri MA, Prof Hendrawan Supratikno, dan DR Nunung Nuryantoro. Pada pembahasan, Faisal Basri menegaskan bahwa proporsi untuk mengerakka perekonomian nasional melalui sektor pertanian/desa termasuk Dana PNPM, dibandingkan dengan keseluruhan dana anggaran negara, adalah terlalu kecil dan tidak cukup, sekaligus menyebutkan bahwa beberapa indikator yang digunakan oleh pemerintah tidaklah lengkap dan komprehensif. Indikator-indikator yang dipakai cenderung menampilkan sisi parsial dan tidak diperbandingkan.
Penekanan Faisal Basri, adalah bahwa Indonesia adalah a Small Open Economy atau Sebuah Bangsa yang memiliki kondisi ekonomi yang sangat tergantung pada Luar Negeri. Kondisi ini sangat rentan dengan Spillover Effect Crisis, atau diartikan sebagai bagsa yang memiliki kerawanan dibidang ekonomi, dengan indikator Perdagangan Internasional, Kredit atau Aliran Dana, dan Mata Uang. Data tiga indikator mengindikasikan Ekonomi Makro bangsa yang terjaga, akan tetapi sebenarnya rapuh, sehingga semakin tinggi volatilitasnya dalam 5 tahun terakhir, ini membuat prospek ekonomi 2009 dapat saja memburuk.
Ditegaskan Faisal Basri bahwa Pertumbuhan Ekonomi walaupun terlihat meningkat, akan tetapi sangat lamban dibandingkan dengan negara tetangga, ditambah dengan kualitas pertumbuhan yang buruk, yang diindikasikan oleh pendukung non tradable, terjadinya deindustrialisasi dan kondisi sektor informal yang cenderung bertumbuh sebagai indikasi sektor formal yang stagnan.
Faisal Basri memberikan dukungan pada kegiatan pemerintah yang berpihak pada masyarakat kecil, meskipun menyesalkan mengapa proporsi anggaran untuk mengerakkan poros ini sangat kecil, politik anggaran yang terjadi adalah mengmbangkan sektor konsumtif, yang dapat ditengarai dari menggelontornya pendanaan dan pembiayaan disektor perkotaan.
Prospek Ekonomi 2009 lebih terlihat pada sektor yang menggunakan sumberdaya bahan baku dari dalam negeri dan pemasarannya di pasar domestik. Program yang tepat dan berkesejajaran adalah dengan penganggaran pada sektor Pertanian/Desa, termasuk juga PNPM didalamnya, Sehingga bisa dipastikan sektor informal akan berkembang, dan dominan dalam perekonomian, akan semakin membesar skala industrinya, dan paling besar menyerap tenaga kerja.
Ekonomi Indonesia dalam potret yang buruk, penegasan ini kembali disampaikan oleh Faisal Basri. Potret ini terlihat di instabilitas ekonomi makro yang semakin menjadi-jadi, Pertumbuhan Ekonomi yang semakin melamban, Kualitas pembangunan ekonomi yang menurun, Human Development Index menurun, Makin tergantung dengan kondisi Global Economic, Daya saing rendah dan Utang Luar Negeri Pemerintah yang sangat besar.
Sejalan dengan pernyataan Faisal Basri, Prof. Hendrawan Supratikno memberikan pernyataan serupa. Pernyataan ini didukung oleh sebuah index yang dikembangkannya sendiri, yang disebut dengan Indek Frustrasi Masyarakat (IFM). Indek ini dibangun dengan mengukur komponen Angka Pengangguran, Angka Inflasi, dan Angka dari Indek Kelangkaan. Dua angka pertama adalah konsep yang dikembangkan oleh seorang ekonom terkemuka di Amerika Serikat, dan komponen terakhir adalah tambahan tersendiri atas hasil perenungan konsep sesuai dengan local content masyarakat saat ini.
Dua komponen pertama oleh Prof. Hendrawan disebutkan sebagai Misery Index atau indek kesengsaraan yang diperoleh dari menjumlahkan angka-angka pengangguran yang terjadi ditambahkan dengan angka inflasi yang ada. Konsep indek kesengsaraan ini dikemukanakan oleh Prof Arthur Okun dari Universitas Yale, pertengahan tahun 1960. Komponen ketiga disebut sebagai Indek Kelangkaan atau Scarsity Index, indek ini biasa digunakan peneliti dibidang ekonomi lingkungan. Mengukur seberapa sulit atau lama masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan pokok dalam satu tahun. Ketiga komponen ini yang membentuk IFM. Hasil dari IFM menunjukan bahwa bangsa ini semakin frustrasi.
Prof. Hendrawan menegaskan dalam kesimpulannya bahwa Tingkat Frustrasi Masyarakat yang dicerminkan dalam IFM semakin membesar terutama dalam beberapa tahun terakhir, seperti terlihat dalam fenomena indikator tingginya pengangguran, tingginya inflasi, dan kesulitan memperoleh kebutuhan pokok. Pertumbuhan ekonomi hendaknya dikembangkan dengan mendorong Economic Creative, yang mengedepankan keunggulan lokal, berbasis kekuatan aspiratif masyarakat setempat ditambah dengan fasilitasi dan dengan polesan industrialisasi. Pertumbuhan Ekonomi ternyata merupakan pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas, terbukti dengan indek GINI yang mengukur tingkat ketimpangan pendapatan dimasyarakat, dimana tingkat ketimpangannya meningkat.
Sejalan dengan Faisal Basri dan Prof Hendrawan, DR Nunung Nuryantoro menyampaikan bahwa kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan dibeberapa tahun belakangan ini adalah karena perilaku pemerintah yang 6i. artinya Pemerintah gagal menjaga stabilitas ekonomi, atau terlambat ( instability), Pemerintah gagal dalam memaksimalkan kebijakan (impotent), Pemerintah gagal dalam memenuhi janji kampanye, dengan indikator kelangkaan berbagai komoditas (iresponsible), Pemerintah gagal dalam menerapkan kebijakan secara konsisten (Incinsistent), terlihat dari perbedaan antara yang dikatakan dengan yang dilakukan, contohnya adlaah pada saat CGI dibubarkan akan tetapi sebaliknya pendonor WB melakukan Pencairan Utang terhadap pemerintah.
Pemerintah gagal meningkatkan kehormatan bangsa dengan tetap bermental "tunduk pada kemauan asing" (inlander), terlihat pada diberikannya pengelolaan Blok Cepu pada Exxon Mobil, dan bukannya lebih percaya pada kemampuan bangsa sendiri. Pemerintah gagal memaksimalkan kesejahteraan bangsa, dengan terjadinya kelangkaan komoditas pangan, misalnya minyak goreng, padahal bangsa ini dikenal dengan penghasil minyak sawit terbesar didunia (irony). DR Nunung kemudian menegaskan pentingnya kembali kepada cita-cita The Founding Fathers kita, dimana tertuang dalam Pancasila dan UUD 45, dimana perlu mengedepankan Kesejahteraan kehidupan bangsa, Bangsa masih memiliki potensi, minimal berupa kemampuan dan keuletan dalam menghadapi Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) bangsa. Talk Show ini ditutup dengan kesimpulan dan dengan ajakan moderator untuk selalu optimis, ditengah krisis global yang melanda, selalu positif (Positive Behaviour), serta berbuat yang terbaik untuk Bangsa dan Negara.
(Ngurah Panji MAD | TA Manajemen Keuangan KMW Provinsi Jawa Tengah)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|










